Menyambung Garis Putus Putus Abdul Gani Mutyara.



Pria berpeci hitam di atas bernama Abdul Gani Mutyara. Saya mengenalnya sebagai kakek. Ayah dari ibu saya, Tien Zulfia Mutyara. Tidak banyak memori yang saya miliki dengan beliau. Kakek meninggal saat saya masih duduk di bangku TK. Saya tidak tahu beliau lahir di mana. Wafatnya tapi di Medan. 

Satu satunya memori yang menempel adalah saya masuk ke kamar beliau di rumah keluarga kami di Jl Hayam Wuruk, Medan. Beliau sedang duduk di kursi malasnya sambil membaca koran. Fitria kecil dengan jidat yang begitu lebar namun tak mau dipakaikan poni (menurut cerita ibu saya) lalu memijat-mijat kaki beliau. Beliau mengintip. Tersenyum. Diberikannya saya beberapa koin dan dia usap kepala saya. Dasar anak kecil tidak tahu diri. Tidak bilang terima kasih saya langsung lari ke depan rumah, lalu menghabiskan uang tersebut untuk beli bonbon di warung si Ibad (orang keling pemilik warung depan rumah kakek yang sudah seperti keluarga kami sendiri). Hanya itu memori yang saya punya. 

Dari dulu cerita tentang beliau samar-samar. Kata mama, kata uwak-uwak, kata kakak-kakak sepupu saya, kakek itu pernah jadi wartawan. Kakek juga pernah mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di Aceh. Paling lekat adalah kakek merupakan pengusaha kelapa sawit. Ada rasa lega karena umur perusahaan tersebut hanya dua generasi. Baru saya tau bahwa tidak ada perusak hutan lebih cepat dari kelapa sawit. 

Hanya sepotong-sepotong saja. Mama sering suruh saya untuk menulis tentang kakek. Tapi mau mulai dari mana?  Anak tertua kakek yang paling tahu sejarah hidupnya sudah lama meninggal. 

Tapi memang Allah selalu punya kejutan-kejutan kecil. Baru baru ini saya dikirimkan pesan melalui Facebook oleh seseorang. Saya tak kenal siapa orangnya. Namun isi  pesannya seperti percikan api yang membakar semangat saya.

“Kakemu lebih besar dari yang kamu ceritakan. Dia orang yang nyaris lengkap. Pernah jadi wartawan pada zaman Hindia Belanda, zaman Jepang dts..” 

Ia juga kirimkan sejumlah tautan tentang hasil karya kakek beserta beberapa teman, serta sejumlah judul buku yang menyebutkan namanya. Dari buku-buku tersebutlah saya bisa menjahit sedikit asal usul serta apa yang beliau kerjakan semasa hidupnya. 

1. Lebornya Kraton Aceh karya A. Gani Mutyara. Diterbitkan pertama pada tahun 1943. 
Buku roman sejarah tersebut menceritakan tentang kudeta 13 petinggi kerajaan Aceh pada Belanda. Buku tersebut ditulis kakek saat umurnya masih 20 tahun. Saat itu beliau merupakan redaktur Koran Atjeh Sinbun. Kakek menulis roman tersebut untuk mengikuti sayembara pemerintah Jepang di Aceh. Walau keluar sebagai pemenang dalam sayembara tersebut, buku tsb akhirnya tidak diterbitkan karena ada tekanan dari sejumlah pihak di Aceh. 

2. Kronik Revolusi Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer tahun 1947. 
“Dewan Penerangan Pesindo Keresidenan Aceh mengadakan sidang darurat di Kotaraja (sekarang Banda Aceh), untuk membicarakan keadaan berhubung semakin meningkatnya kegiatan Belanda di laut dan udara. Diputuskan untuk mulai melancarkan penerangan serentak bersama dewan-dewan penerangan Pesindo kawedanan di seluruh Aceh dan menjelaskan tentang keadaan tanah air yang sedang bergejolak behubung dengan serangan-serangan pihak Belanda. Sidang memutuskan pengurus baru sbb: 
Ketua I : A. Gani Mutyara 
Ketua II: Abdullah Atif
dst

3. The Republican Revolt : A Study of the Acehnese Rebellion oleh Nazaruddin Sjamsuddin. 
(Paraphrasing) In accordance to the Batee Kureng conference held by Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), the conference decided to reorganise the Pemuda PUSA. In addition, two new organisation were born. The first, the Persatuan Bekas Pejuang Aceh was put under the leadership of the former Commander of Division X, Husin Yusuf. The second was the Pandu Islam, which was intended to organised all youth and to camouflage the military training given by Pemuda Pusa as scout training. The leader was Abdul Gani Mutyara, the editor of the daily, Tegas, in Kutaraja and a former officer in the Division X. 

After the Batee Kureng conference, Aceh pull out from Negara Islam Indonesia and declare an independence as Negara Bahagian Atjeh (NBA) Negara Islam Indonesia (NII). They astabish the first cabinet in 1955 and appointed Abdul Gani Mutyara as the Minister of Information. 

Baru segitu yang saya dapatkan. Oh iya. Mama bilang kakek juga ikut menyerahkan pesawat Dakota RI-001 Seulawah ke Presiden Soekarno. Tandanya beliau kembali ke pangkuan NKRI. Sebagai jurnalis, saya harus verifikasi ini. Benar tidaknya, saya tetap berbangga hati. 

Hasil riset singkat saya juga menunjukkan kakek menuliskan sejumlah karya kumpulan puisi. Baik yang ia tulis sendiri dan yang ia susun dengan sejumlah kawannya. 

Itu menjawab semua pertanyaan kenapa waktu SD dan SMP dulu saya senangnya buat puisi cinta-cintaan ga’ mutu. Menjawab pertanyaan kenapa setelah melanglang buana memilih profesi, dunia jurnalisme menarik saya kembali. Semua takdir Allah SWT karena mungkin, darah perlawanan kakek masih tersisa di badan saya. 

Apalah yang bisa saya perbuat? Jika Allah menghendaki, mungkin perlahan saya akan susun cerita hidupnya. Setidaknya agar nama Abdul Gani Mutyara tidak akan pudar bagi para cucu dan cicitnya. 

Belakangan ini saya sedang demotivasi. Bingung harus melangkah ke mana lagi. Temuan ini semacam jadi angin segar. Ada lagi pencapaian-pencapaian kecil yang saya ingin raih. Kalau lah Yang Maha Cinta membolehkan saya menginjakkan kaki di Jannah-Nya, bisa bekumpul dengan keluarga dan bertemu kakek, saya ingin bilang, “Fitria mencoba mengikuti jejak  kakek. Bentuk perlawanan Fitria mungkin tak sehebat kakek. Tapi Fitria terus berusaha. Semata-mata untuk buat kakek bangga.”

Al Fatihah. 


Jakarta, 30 Juni 2017

2 comments:

  1. Salam.
    Mohon maaf sebelumnya. Apakah saudara tau tanggal wafatnya Pak A. Gani Mutyara.
    Mohon bimbingannya, sebab saya juga sedang menulis tentang tokoh budayawan Aceh. Salah satunya Pak A. Gani Mutyara.

    ReplyDelete
  2. Salam kenal sebagai cucu dari tokoh-tokoh pemuda PUSA🙏

    ReplyDelete