Sebelum saya mulai dengan tulisan yang mungkin lebih mirip sama curhatan dan jauh dari kata ilmiah (skripsi kali ah) mari kita kategorikan dulu dua kelompok objek tulisan ini.
Gen X. Menurut Wikipedia, Generaxi X atau singkatnya Gen X, adalah mereka yang lahir antara akhir 1970an hingga awal 1980an. Sedangkan Generasi Milenial (yang juga dikenal dengan Gen Y) menurut Wikipedia, adalah mereka yang lahir antara pertengahan 1990an hingga awal 2000an. Secara runtutan tahun, Gen X dan Milenial itu adik-kakak lah. Hanya terpaut beberapa tahun.
Ada satu lagi kategori yang kalau ditambahkan di judul, jadinya kepanjanga. Kelas menengah. Siapa itu kelas menengah? Di Indonesia tidak ada pengkategorian khusus tentang siapa saja yang masuk kategori kelas menengah. Penjelasan yang saya dapatkan dari laman Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI, cukup panjang. Segini lah yang mungkin bisa dikutip.
" Banyak kajian sosial politik yang tercatat membahas mengenai kelas menengah tersebut mulai dari Bulkin (1984), Arif Budiman (1976), Soegeng Sarjadi (1994), dan yang terakhir adalah Seda (2010). Di antara berbagai macam metanarasi mengenai kelas menengah tersebut, analisis yang mereka kembangkan sendiri bersumber pada munculnya oil boom yang kemudian menghasilkan adanya kelompok “golongan menengah” yang kemudian diartikan sebagai munculnya kelompok masyarakat berpenghasilan menengah dan berpendidikan, serta memiliki gaya hidup baru selayaknya orang kaya baru (OKB). Adanya terminologi orang kaya baru tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi sendiri menjadi pionir penting dalam merumuskan kelas menengah tersebut."
Kemudian ada juga analisa Neo- Marxis, perubahan makna kelas menengah setelah revormasi, gerakan koin, ect. Bisa baca ada di link yang sudah saya sambungkan.
Di sini saya ga mau terlalu ilmiah. Jadi hanya akan berdasarkan observasi cetek saya saja.
Diluar dari status ekonomi keluarga, bagaimana saya tumbuh dan lingkungan bergaul, saya bisa bilang bahwa saya ini kelas menengah. Kenapa? Saat ini saya masih numpang hidup dengan Ibu. Dengan gaji wartawan yang, yaaah... "Pokonya tetap bersyukur saja" ini, Alhamduillah saya terbantu dengan tidak harus mikir bayar listrik, beli sayur sama maintenance toilet di kamar mandi yang sudah menua.
Bisa dibilang, gaji saya utuh untuk membiayai diri saya. Ya untuk tabungan berkala, tabungan jalan-jalan, buat beli kemeja liputan dan sekali-sekali nraktir seisi rumah. Tidak banyak. Tapi cukup.
Tapi saya salah satu yang beruntung. Saya tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan. Cap passport sudah lumayan lah. Bisa ke luar negeri setidaknya dua tahun sekali dengan tinggal bawa badan. Lalu apakah saya masih bisa dibilang sebagai bagian dari kelas menengah? Mungkin sekali-kali harus wawancara ahli ekonomi untuk dapat jawabannya.
Lalu apa korelasinya Gen X, Milenial dan kelas menengah. Jama'ah pecinta Coldplay di Tanah Air digegerkan dengan tur Asia Tenggara band asal Inggris ini. Mereka (termasuk saya) berbondong-bondong untuk menyapu bersih tiket yang dijual, khususnya untuk show mereka di Singapura. Hari ini (1 April 2017), jalanan Jakarta lancar. Entah apa memang segitu banyak kelas menengah yang "naik haji" ke Singapura untuk nonton Coldplay?
Lalu apa korelasinnya, Fit? Sebagian besar dari mereka adalah Gen X dan Milenial. Untuk harga tiket konser, plus tiket pesawat dan penginapan, setidaknya setiap orang harus merogoh kocek (bahasa tv banget, wk) Tiga Juta Rupiah. MI NI MAL. Belum makannya, belum transportasi. Kalau kata Ibu saya, anak muda jaman sekarang lebih banyak mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu.
Bahkan menurut Vice dan The Jakarta post , generasi milenial menghabiskan banyak uangnya untuk beli kopi. Iya sih berdasarkan warga Amerika. Tapi coba kita ngaca aja. Berapa banyak uang yang kita keluarkan tiap bulan untuk beli kopi? Bukan kopi bubuk, yah.
Baca di sini :
http://www.thejakartapost.com/life/2017/01/20/millenials-spend-more-on-coffee-than-saving-for-retirement-survey.html
https://munchies.vice.com/en_us/article/millennials-are-spending-more-on-coffee-than-on-retirement
"Jaman mama muda dulu ke luar negeri masih murah. Tapi waktu masih lajang, jarang tuh bela-belain ngeluarin uang segitu banyak untuk nonton konser di luar negeri." -Tien Zulfia, 57, Ibu dari 3 dara rempong.
Beberapa hari yang lalu CNN Indonesia (cie, promosi) mendalami tentang kesulitan Gen X dan Milenial untuk memiliki rumah. Mereka yang juga masuk dalam kategori kelas menengah, harus ikhlas untuk mencicil rumah di wilayah penyangga Ibu Kota, seperti Tanggerang, Depok dan Bekasi. Itu kalau ingin punya rumah napak tanah dan tidak dapat "jatah" dibelikan rumah oleh orang tuanya. Banyak pasangan muda yang saya kenal juga harus senang dengan tinggal di apartment (yang lebih mirip rusunami), mengontrak atau bahkan harus ngekos.
Tonton di sini :
https://www.youtube.com/watch?v=HrMZBkSawwU
Di saat yang sama, sejumlah penelusuran menyebutkan bahwa Gen X dan Milenial tidak terlalu tergiur dengan simbol kesuksesan generasi orang tua kita. Generasi Baby Boomers. Bagi mereka, kesuksesan adalah kemapanan. Punya rumah, punya mobil, punya deposito dan paling kentara adalah memiliki pekerjaan yang "aman". Sedangkan, setidaknya dari sejumlah hasil liputan, artikel dan beberapa orang yang saya ajak bicara, Gen X dan Milenial mendefinisikan kesuksesan dengan hal yang lain.
Bagi sebagian mereka, kata sukses datang ketika seberapa banyak negara yang sudah pernah dikunjungi, seberapa besar impact yang mereka bisa berikan untuk lingkungan. Apa lagi yang masih lajang. Kita seorang punya kebebasan untuk menghabiskan pundi-pundi yang ia miliki, untuk membuat mereka bahagia. Contohnya, ya nonton konser Coldplay.
Jadi menurut saya ya wajar saja. Mereka yang sehari-hari banting tulang untuk bisa menyicil rumah dengan harga selangit (thanks to Baby Boomers) bisa sedikit bernafas dan mendapatkan secuil kebahagiaan dengan pergi nonton konser. Sebagian dari mereka ini adalah orang-orang yang harus berjibaku di KRL, TransJakarta dan bergantung dengan murahnya tarif ojek/taxi daring (termasuk saya) demi bisa sampai kantor tepat waktu, karena rumahnya jauh banget.
Menjadi Apa Adanya. Bukan Ada Apanya.
Oke lah. Objek studi kasus terbaik adalah diri sendiri. Dengan segala nikmat yang Dia berikan, saya beruntung. Saya beruntung karena seumur hidup tinggal di perumahan elite. Ibu saya berkecukupan. Seumur-umur saya tidak pernah kekurangan materi. Kalaupun tiap akhir bulan saya kere luar biasa, saya yang ga tau malu ini masih bisa pinjam selembar-dua lembar uang sama Ibu saya.
Hampir seumur hidup, saya bergaul dengan orang-orang ekonomi menengah keatas. Beruntung saya keterima di universitas negeri. Di sana saya bertemu orang-orang hebat yang mengajarkan saya tentang kerendahan hati dan hidup "prihatin". 5 tahun di Jatinangor yang mengajarkan saya bisa diajak ke hotel bintang 5 dan tidur di lantai beralaskan tikar selama 1 bulan penuh.
Tidak dipungkiri, saya dikelilingi dengan teman-teman yang tiap ketemu tasnya pasti ada yang baru. Kalau saya, ya modal minjem sama Ibu. Itu selalu saya akui dan saya tidak malu. Beberapa tahun ke belakang ini saya sadar bahwa benda dan materi, tidak serta merta menjadikan seseorang lebih tinggi derajatnya. Setidaknya di mata Tuhan. Kalau di mata manusia? Yah, kita akui saja banwa menjadi materialistis (mengaku atau tidak) adalah keniscayaan, ketika kita selalu bersanding dengan kelompok borjuis. Memang terdengar kasar, tapi itu nyata.
Dulu saya selalu ingin "dilihat". Pikir saya, "Masa' tinggal di Pondok Indah tas gue gitu doang?." Cih. Dangkal sekali dulu kamu, Fitria.
Perlahan saya bisa melihat sesuatu lebih dari sebuah price tag. Kenyamanan dan kemudahan yang saya dapatkan dari Tuhan lah yang mendorong saya untuk menggeluti profesi saya sekarang. Jadi wartawan, sulit kalau cita-citanya mau jadi kaya. Tapi Lillahi Ta'ala. Tidak ada yang saya sesali.
Sesekali ego berontak waktu saya tau, gaji adik saya 5 tahun lebih muda, sama dengan gaji saya yang sudah punya pengalaman kerja lebih. Tapi ini jalan yang saya pilih. Walau penuh peluh, saya punya akses untuk bisa masuk ke ruang-ruang penting di republik ini. Saya juga punya mic yang cukup berat untuk bisa menodong politisi dengan pertanyaan yang tidak mereka sukai. Saya bisa bertemu seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari PPSU hingga menteri. Itu yang tak terbayarkan dengan materi.
Satu hal yang masih membesarkan hati di kala saya ragu pada profesi ini. Di satu kesempatan, Bang Alfito Deannova Gintings pernah berpesan, "Ga semua orang bisa tahan nunggu narsum berjam-jam, seharian cuma untuk dapetin satu statement doang. Ya kalo ada anak-anak baru yang buru-buru resign karena ga cocok dengan pekerjaan ini, ya ga salah juga. Jadi jurnalis itu bukan kita yang milih, tapi profesinya yang milih kita."
Semoga langgeng sama profesi ini.
Ga nyambung ya sama tulisan part satu? Hahahahah
Intinya adalah, terkadang kita lupa dengan tujuan hidup yang tidak selalu tentang materi. Gen X dan Milenial yang bisa dibilang harus berjibaku dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak mereka rasakan. Kebutuhan dasar memiliki rumah yang tidak bisa mereka dapatkan, karena naiknya harga rumah tidak dibarengi dengan naiknya gaji. Jadi sebagian dari mereka lebih memlilih untuk menggunakan uang demi kepuasan sementara. Ngopi di Tuku atau makan di Kintan buffet.
Salah? Sama sekali tidak.
Oh ya, kalo saya tipe yang mana? Saya Gen X tidak bisa afford KPR, tidak beniat menyicil mobil (nyetir aja ga bisa), yang sering kali beli kopi Tuku, belum pernah nyoba Kintan buffet, dengan tagihan kartu kredit yang bikin mules thanks to DLK Pulau Pramuka yang membakar wajah saya (Harusnya minta reimburse sama Ibu Khofifah, tapi ya sudalah) dan tidak sabar nonton Coldplay di Bangkok minggu depan.
Kawan, tidak ada yang salah dengan pilihan gaya hidup. Selama dijalani dengan kesadaran dan kesanggupan masing-masing, ya sah-sah saja. Jangan lupa bahagia!
xoxo,
Fit


Sebagai seorang anak Indonesia yang diharapkan meminum SGM setiap hari, kopi pada akhirnya adalah pelarian dari realita yang kita jalani. ekspektasi demi ekspektasi yang patah, harapan demi harapan yang pupus. saya rasa kopi akan tetap menemani kita sampai mati (Mungkin di surga tidak ada kopi, karena saya rasa disana tidak akan ada lagi ekspektasi yang akan dipenuhi) :)
ReplyDeleteBtw, salam dari https://kurakurapejalan.blogspot.com/
Delete