Married vs Single



Weddings and babies...
Weddings and babies everywhere...

Ya ga sih? Buat Anda saat ini berada di usia 20an, pasti bisa ngerasain lagi banyak-banyaknya orang-orang disekitar kita yang mulai menikah. Bahkan udah punya anak. Alkisah katanya ini "tren" jaman dulu yang kembali. Yak, nikah muda. 

Ada yang pro ada yang kontra. Pro bagi mereka yang memang bercita-cita ingin jadi ibu rumah tangga. Ingin menjadi full time mum yang fokus ngurus anak dan melayani suami. Pro juga bagi mereka yang percaya bahwa pernikahan bukan akhir dari segalanya, perkembangan karir salah satunya. 

Kontranya? Ya itu tadi, belum siap mental, finansial, punya kepercayaan karier bakal mandek once udah nikah. Khususnya yang kaum hawa. Tapi apa iya? Gue contohnya. Gue sendiri berada di tengah-tengah, walaupun pada akhirnya gue akan meninggalkan masa lajang di usia yang masih cukup muda.

Jujur aja sebelum gue ketemu sama si calon suami, gue memiliki keinginan yang sangat kecil untuk menikah. Trauma kegagalan rumah tangga orang tua menjadi alasan nomor 1 atas keraguan gue pada lebaga pernikahan. Lah terus kenapa sekarang berubah? Ada yang bilang "when you know it, you know it." Mungkin itu yang gue rasakan sekarang.

Salah fokus.

Apa iyah nikah muda merupakan hal yang luar biasa menyenangkan atau malah sebaliknya? Jawaban klisenya : kembali ke orangnya masing-masing. Tapi kalau kita cari jawaban yang lebih 'pinter' dikit mungkin analisa (cialah) gue kaya gini.

Menurut gue di dunia ini ada dua macam wanita  :
1. Mereka yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga
2. Mereka yang bercita-cita menjadi wanita karir

Kudos buat mereka yang bisa berkomitmen penuh untuk jadi ibu rumah tangga dan kudos juga buat yang mau jadi wanita karir plus istri plus menjadi ibu yang baik. Dua-duanya sama-sama baik. Bukan berarti ibu rumah tangga lebih hebat dari working mum dan begitu juga sebaliknya.

Bagi mereka yang jadi full time housemaker, bayangin 24/7 urusan lo ya kalo ga anak, suami. Mereka  punya sedikit ruang gerak bagi diri mereka sendiri. Berat? Jelas. Tapi itu pilihan. Anak nangis, minta makan, suami pulang kantor, capek, cranky, minta makan, g punya asisten rumah tangga,  chaos  loh itu. Mikirinnya aja merinding.

Gue paling sebel sama orang yang komen gini,
"Temen-temen lo yg udah pada nikah jadi ibu rumah tangga semua yah? Kok gitu yah?"

Ya mana gue tau! Terindikasi banget kan 'kesongongan' pertanyaan itu? Gue ga tau beratnya gimana jadi ibu rumah tangga. Tapi yang gue sadari semua manusia pada akhirnya akan mengeluh, rumlah banget. Namanya juga manusia. Tapi yang harus disadari adalah setiap pilihan ada konsekuensinya.

Gimana dengan yang mau kejar karir? Ini juga ga masalah
Mungkin gue salah satunya. Di usia gue yg masih 24 tahun ini, gue merasa masih banyak yang bisa gue lakukan. Gue pengen banget karir gue bisa sukses, walaupun sejujurnya hingga saat ini gue masih kesulitan untuk mencari apa passion gue.

Dulu gue berfikir untuk tidak menikah, yang artinya gue bisa fokus 100% untuk mengembangkan karir. Apa yang terjadi? Kerja pertama gue berakhir pada kegagalan, udah cuma 6 bulan doang kerjanya. Sekarang gue dihadapkan dengan situasi sulit, kurang dari 4 bulan lagu, abis nikah gue diboyong ke negara yang berbeda. Artinya tawaran-tawaran kerja yang sangat menggiurkan ini enggak bisa gue ambil.

Kenapa? Empat bulan sis, gue dapet apa kerja empat bulan? Belum lagi gue ga yakin bisa kerja full time, karena satu dan lain hal gue ga bisa meninggalkan perencanaan pernikahan ke nyokap. Belom lagi ngumpulin surat-surat yang harus gue persiapan untuk pengajuan visa selanjutnya. Gue berasa di limbo.

Normalnya, di usia ini gue lagi meniti karir. Kesempatan yang ada di depan mata gue, dengan berat hati harus gue lewatin. Kenapa? Karena gue mau menikah. Ini yang bikin gue mentok. Sesuatu yang gue anggap enggak akan berdampak ke 'mimpi' gue ternyata emang memberikan pengaruh besar.

Tahun depan gue 25 dan gue harus memulai karir gue di usia segitu, di negara orang pula. Gue cuma bisa nelen ludah.

Menikah, bukan keputusan yang mudah. Beberapa kali gue berfikir untuk mengurungkan niat. Gue pernah berfikir menikah itu ga penting. Yang penting itu, punya karir sukses dan bisa kontribusi ke lingkungan lo. Jadi orang yang berguna. Sayangnya saat ini gue lagi berasa useless. Asli gue depresi.

Alhasil gue selalu membombardir si calon suami dengan berbagai pertanyaan seputar karir. Apakah gue bisa sukses, apakah gue bisa kerja di bidang yang gue mau, apakah gue bisa dapet kerja?

Gue inget banget, 1 bulan abis gue lulus, gue galaunya dunia akhirat. Nangis mulu, bosen, gampang emosi. Karena gue nganggur. 6 bulan kerja semuanya tenang. Marah-marah masalah kantor sih ada tapi itu aja. Gue seneng bisa kerja, gue seneng bisa produktif, yang paling penting gue seneng karena gue ngerasa BERGUNA.

Sadly, i don't feel like that at the moment...

Gue percaya Allah punya rencana untuk setiap umatnya. Mungkin banyak diluar sana yang sedang berada di 'limbo' kaya gue ini. Pada akhirnya gue nulis ini bukan untuk ngasih solusi, tapi untuk berbagi cerita demi mencari solusi itu sendiri. Yang bisa gue lakukan adalah terus bersyukur dan berdoa supaya Allah memberikan gue kesempatan untuk bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Untuk pertama kalinya gue punya ketakutan besar. Sebelumnya gue ga pernah takut akan apapun, gue punya keyakinan besar gue bisa menerjang semua masalah dan cobaan. Kali ini beda, luar biasa beda. Gue takut tenggelam pada kenyamanan, nadah tangan minta uang tanpa usaha.

Jadi apa intinya? Tidak ada yang lebih baik diantara mereka yang memilih untuk menikah muda dan mereka yang memilih untuk mengejar cita-cita. Tanpa kita tau, semua pasti punya ketakutan masing-masing. Alhamdulillah bagi mereka yang sudah yakin dan bahagia atas pilihannya. Sisanya, tinggal kita cari deh apa sebenarnya yang membuat kita bahagia. Kita cuma mau bahagia kok, cara mencarinya memang beda-beda. Bukan berarti kita bisa menghakimi seseorang karena mereka punya cara pandang yang berbeda dengan kita. No competition girls.

Gue percaya semua wanita itu hebat. Kita diciptakan untuk bisa tahan banting, secara fisik dan mental. Kita semua juga punya kekurangan. Kita semua ini adalah one big sorority sisters. Single, married, on the look out, semua itu cuma label. Yang jelas kita harus bisa jadi manusia yang lebih baik apapun caranya.

Gue? Gue ga akan berhenti berdoa dan berusaha. Ketakutan itu jelas masih ada, tapi semuanya bakal hilang perlahan. Semua butuh waktu.

Secara gue anaknya Pinterest banget, gue nemu satu quote bagus khusunya untuk cewe-cewe hits.

We women have a lot to learn about simplifying our lives
We have to decide what is important and then move along at a pace that is comfortable for us
We have to develop the maturity to stop trying to prove something
We have to learn to be content with what we are 
-Marjorie Pay Hickley

<3
F

No comments:

Post a Comment